Kota Wisata Air

17 07 2007

Kota Palembang adalah salah satu kota (dahulu daerah tingkat II berstatus kotamadya) sekaligus merupakan ibu kota dari Provinsi Sumatra Selatan. Palembang adalah kota terbesar kedua di Sumatra setelah Medan. Kota ini dahulu merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya sebelum dihancurkan oleh Majapahit. Sampai sekarang bekas area Kerajaan Sriwijaya masih ada di Bukit Siguntang, di Palembang Barat.

Setelah dihancurkan oleh berbagai peristiwa mulai dari penyerbuan pasukan maritim barbar dan isolasi dari majapahit, kota ini lalu sangat terpengaruh budaya Jawa dan Melayu. Sampai sekarang pun hal ini bisa dilihat dalam budayanya. Salah satunya adalah bahasa. Kata-kata seperti “lawang (pintu)”, “gedang (pisang)”, adalah salah satu contohnya. Gelar kebangsawanan pun bernuansa Jawa, seperti Raden Mas/Ayu. Makam-makam peninggalan masa Islam pun tidak berbeda bentuk dan coraknya dengan makam-makam Islam di Jawa.

Kota ini memiliki komunitas Tionghoa yang besar. Makanan khas daerah ini adalah pempek Palembang, tekwan, model, celimpungan, kue maksuba, kue 8 jam, kue engkak, laksan, burgo, dll. Makanan seperti pempek atau tekwan mengesankan “Chinese” taste masyarakat Palembang.

Palembang merupakan kota tertua di Indonesia, hal ini didasarkan pada prasasti Kedukan Bukit yang diketemukan di Bukit Siguntang, sebelah barat Kota Palembang, yang menyatakan pembentukan sebuah wanua yang ditafsirkan sebagai kota yang merupakan ibukota Kerajaan Sriwijaya pada tanggal 16 Juni 683 Masehi. Maka tanggal tersebut dijadikan patokan hari lahir Kota Palembang.

Kota Palembang juga dipercayai oleh masyarakat melayu sebagai tanah leluhurnya. Karena di kota inilah tempat turunnya cikal bakal raja Melayu pertama yaitu Parameswara yang turun dari Bukit Siguntang. Kemudian Parameswa meninggalkan Palembang bersama Sang Nila Utama pergi ke Tumasik dan diberinyalah nama Singapura kepada Tumasik. Sewaktu pasukan Majapahit dari Jawa akan menyerang Singapura, Parameswara bersama pengikutnya pindah ke Malaka disemenanjung Malaysia dan mendirikan Kerajaan Malaka. Beberapa keturunannya juga membuka negeri baru di daerah Pattani dan Narathiwat (sekarang wilayah Thailand bagian selatan). Setelah terjadinya kontak dengan para pedagang dan orang-orang Gujarat dan Persia di Malaka, maka Parameswara masuk agama Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah.

Secara teratur, sebelum masa NK-RI pertumbuhan kota palembang dapat dibagi menjadi 5 fase utama:

1. Fase sebelum Kerajaan Sriwijaya Merupakan zaman kegelapan, karena mengingat Palembang telah ada jauh sebelum bala tentara sriwijaya membangun sebuah kota dan penduduk asli daerah ini seperti yang tertulis pada manuskrip lama di hulu sungai musi merupakan penduduk dari daerah hulu sungai komering.

2. Fase Sriwijaya Raya, Palembang menjadi pusat dari kerajaan yang membentang mulai dari barat pulau jawa, sepanjang pulau sumatera, semenanjung malaka, bagian barat kalimantan sampai ke indochina. Runtuhnya Sriwijaya sendiri utamanya karena penyerbuan bangsa-bangsa pelaut ‘yang tidak terdefinisikan’, sebagian sejarahwan mengatakan bahwa mereka adalah pasukan barbar laut dari Srilanka (Ceylon). Akibat hancurnya kekuatan maritim mereka, Sriwijaya menjadi lemah dan persekutuan daerah-daerah kekuasaanya terlepas dan ketika datangnya Ekspedisi Pamalayu dari Jawa (majapahit) ke jambi dalam melakukan isolasi kepada Palembang, untuk mencegah Sriwijaya bangkit kembali.

3. Fase Runtuhnya Kerajaan Sriwijaya, Disekitar Palembang dan sekitarnya kemudian bermunculan kekuatan-kekuatan lokal seperti Panglima Bagus Kuning dihilir sungai musi, Si Gentar Alam didaerah Perbukitan, Tuan Bosai dan Junjungan Kuat di daerah hulu sungai Komering, Panglima Gumay disepanjang Bukit Barisan dan sebagainya. Pada fase inilah Parameswara yang mendirikan Tumasik (Singapura) dan kerajaan Malaka hidup, dan pada fase inilah juga terjadi kontak fisik secara langsung dengan para pengembara dari Arab dan Gujarat.

4. Fase Kesultanan Palembang Darussalam, Hancurnya Majapahit di Jawa secara tidak langsung memberikan andil pada kekuatan lama hasil dari Ekspedisi Pamalayu di Sumatera. Beberapa tokoh penting dibalik hancurnya majapahit seperti Raden Patah, Ario Dillah (Ario Damar) dan Pati Unus merupakan tokoh-tokoh yang erat kaitanya dengan Palembang. Setelah Kesultanan Demak yang merupakan ‘pengganti’ dari majapahit dijawa berdiri, di Palembang tak lama kemudian berdiri pula ‘Kesultanan Palembang Darussalam’ dengan raja pertamanya adalah ‘Susuhunan Abddurrahaman Khalifatul Mukmiminin Sayyidul Iman’. Kerajaan ini mengawinkan dua kebudayaan, maritim peninggalan dari Sriwijaya dan agraris dari Majapahit dan menjadi pusat perdagangan yang paling besar di Semenanjung Malaka pada masanya. Salah satu Raja yang paling terkenal pada masa ini adalah Sultan Mahmud Badaruddin II yang sempat menang tiga kali pada pertempuran melawan Eropa (Belanda dan Inggris).

5. Fase Kolonialisme, Setelah jatuhnya Kesultanan Palembang Darussalam pasca kalahnya Sultan Mahmud Badaruddin II pada pertempuran yang keempat melawan Belanda yang pada saat ini turun dengan kekuatan besar pimpinan Jendral De Kock, maka Palembang nyaris menjadi kerajaan bawahan. Beberapa Sultan setelah Sultan Mahmud Badaruddin II yang menyatakan menyerah kepada Belanda berusaha untuk memberontak tetapi kesemuanya gagal dan berakhir dengan pembumi hangusan bangunan kesultanan untuk menghilangkan simbol-simbol kesultanan. Setelah itu Palembang dibagi menjadi dua keresidenan besar, dan pemukiman di Palembang dibagi menjadi daerah Ilir dan Ulu.

Kota Palembang telah dicanangkan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ‘Kota Wisata Air’ pada tanggal 27 September 2005. Presiden mengungkapkan bahwa kota Palembang dapat dijadikan kota wisata air seperti Bangkok, Thailand dan Pnomh Phenh, Kamboja.


Tindakan

Information

3 tanggapan

6 08 2007
adigumay

Bagus untuk infonya…
Aku sedang mencari data tentang adakah hubungan antara asal muasal GUMAY dengan Kerajaan Saiwijaya. Masa antara kemunculan cikal bakal GUMAY dengan masa – masa keruntuhan Kerajaan Sriwijaya sejalan/sejalur.
Dalam Mitos ada pesan dan nilai moral yang akan disampaikan.Betulkan?
Dalam Mitos yang terjaga turun temurun, ada nilai sejarah yang tersirat?Itu yang akan aku cari…”Asal muasal GUMAY adalah uhang kelam(orang yang sakti mandraguna-menurutku),yang bernama DIWE GUMAY beserta 2 orang sauradanya yang bernama SEMIDANG dan NURDIN SAKTI, yang menapakkan kakinya pertamakali di Bukit Siguntang setelah melanglangbuana ke planet2 di luar mayapada. Ketika melihat tanah di sekitar Bukit Siguntang sudah kotor dengan darah, uhang kelam tidak ingin kesuciannya terkotorkan oleh tanah yang penuh darah. Uhang kelam memutuskan menghindar dan memilih daerah sepi,jauh dari keramaian. Keputusannya adalah menelurusuri sungai Musi ke Hulu. Bekas peninggalan keturunannya dapat di lihat di sepanjang sungai Musi sampai ke daerah Lahat. Diwe Gumay mendirikan cikal bakal GUMAY, Semidang mendirikan sikal bakal Pasemah dan Nurdin Sakti (aku lupa)”…Diwe disini bukan DEWA seperti yang banyak dikenal dan difahami masyarakat umum!!!Pertanyaan yang mendasar dan menghilangkan mitos, apakah itu bukan berita tersirat mengenai orang – orang sisa Kerajaan Sriwijaya yang sedang mensucikan diri/bersembunyi yang melarikan diri dari penjajahan Majapahit.Mengingat Bukit Siguntang adalah tempat suci dahulunya!!!Dan yang terpenting adalah disepanjang sungai Musi, yang banyak kita temukan adalah peninggalan masa Kerajaan Sriwijaya dan bukan GUMAY!!!Melanglangbuana bisa di asumsikan dengan bertapa dan melihat dengan kekuatan batin,sebab,Uhang Kelam tidak punya sayap!!!
Orang – orang sisa itu bisa jadi pendeta – pendeta, bisa juga sesepuh kerajaan dan bisa juga orang – orang kerajaan yang bersembunyi/mengungsi dari orang – orang Majapahit .
Orangtua saya adalah garis keturunan langsung 27 generasi sampai ke Uhang Kelam dan sangat percaya/mempercayai mitos/legenda yang disampaikan oleh pendahulu – pendahulunya. Apakah bisa membantu saya dalam melacak hubungan/garis sejarah yang ada ini?Ada ataupun tidak ada hubungannya,aku fikir,layak untuk dibahas.Aku orang bodoh yang tidak mengerti sejarah, tapi tertarik dengan kisah ini!(tidak untuk di publikasikan toh?)

23 08 2007
eddy kusuma

tulisan yg bermanfaat untuk anak bangsa khususnya putra sumsel, untuk izinkan kami menampilkan tulisan ini tanpa merubah isinya pada situs kami http://www.sriwijayanet.org. tks

20 09 2007
Bait Wright

nice blog sir I eager to post it in the other address…

Tinggalkan komentar